Semut yang Tenggelam
Cerita ini dimulai dari suatu bak mandi dengan ember besar sebagai tempat menampung airnya. Sebuah ember berwarna hijau yang terlihat seperti danau raksasa bagi Pak Sema, ketua semut, di kawasan tersebut.
Kali pertama aku menawarkan wawancara, ia berlari dengan gesit, menghindari langkah kakiku supaya tidak menginjak tubuhnya yang mungil. Yah, padahal siapa juga yang ingin menginjaknya.
Pak Sema mengaku, sulit sekali mencari makanan di kawasan itu. Entah makan semut apa yang ia cari di dalam sebuah kamar mandi. Rintangannya besar. Meleng sedikit saja, kawan-kawannya bisa terbawa arus air. Apalagi jika kamar mandi tersebut sedang digunakan untuk mandi. Para semut harus bersembunyi di dalam sarang, bertahan sekuat mungkin untuk menghindari sesuatu yang mereka anggap sebagai 'banjir'. Meski tidak aman, kawasan itu adalah rumah mereka. Tempat untuk mencari rezeki berupa makanan yang sering kali susah didapatkan.
Jika aku tanya memang mereka biasanya makan apa, aduh ... jawaban Pak Sema terdengar menyedihkan.
"Apa saja," katanya.
"Contohnya apa?" tanyaku kembali.
"Buntut cicak yang sudah putus bisa, kaki kecoa bisa, sisa makan manusia di pinggiran saluran air pun bisa. Kalau lagi rezeki, kadang dapat bangkai kecoa," jawab Pak Sema dengan nada yang tak terdengar menyedihkan. "Karena itu sudah takdir saya, bukan sesuatu yang harus dipikirkan sebagai masalah hidup. Jadi saya tidak pernah sedih untuk melakukannya, itu hanya bagian dari rutinitas saya."
Pak Sema dan kawanannya adalah semut sebagai mestinya. Mereka takut air. Mereka adalah makhluk waras yang tidak ingin hanyut ke dalam got atau tenggelam begitu saja ke dalam danau raksasa dari ember hijau. Meski mereka takut kalau air mungkin menyakiti mereka, bukan berarti mereka menghindarinya selama hidup.
Anak Pak Sema, Sese, bahkan bermain di pinggiran ember hijau setiap hari. Katanya, Sese senang mengelilingi danau yang berbentuk lingkaran itu. Apalagi kalau siang, air di dalam danau raksasa ikut terasa hangat. Yah, apa yang kalian harapkan dari rekreasi para semut di kawasan kamar mandi.
Aku pun bertanya, apakah ember itu tidak pernah memakan korban jiwa?
Pak Sema bilang, kematian para semut adalah kabar sehari-hari mereka. Para semut yang tidak hati-hati, mudah terpeleset ke dalam danau raksasa. Namun, ceritanya tidak semenyedihkan itu juga. Terkadang ada manusia yang bersedia menolong. Semut yang sedang terombang-ambing dan bertahan mati-matian agar tidak tenggelam, sering ditolong manusia menggunakan sebuah sikat gigi.
Gampang saja. Manusia tersebut akan menawarkan sikat gigi ke arah semut, sehingga semut dapat meraihnya dan berjalan menaiki sikat gigi. Kemudian, ujung sikat gigi tersebut akan diarahkan ke tempat kering sehingga para semut dapat pulang kembali ke sarangnya.
Namun, ada juga cerita manusia yang tidak sengaja menghanyutkan semut ketika sedang mandi. "Apa bapak tidak dendam?" tanyaku kepada Pak Sema.
"Hidup di sini adalah pilihan kami. Sehingga, apa saja risiko yang akan kami hadapi, sudah menjadi pertimbangan kami sebelum memilih menetap di kawasan ini. Sayangnya, hal-hal seperti itu adalah salah satu risikonya. Saya mau dendam juga, nyatanya tetap ada manusia baik. Saya tidak sanggup membawa dendam dan membeda-bedakan manusia. Jadi saya hanya berusaha bertahan hidup saja," jawab Pak Sema, yang selalu membuatku tertegun mendengarnya.
Pak Sema juga bercerita kalau ia pernah menginspirasi seorang manusia. Meski manusia itu tidak mengetahui namanya dan menganggap semua semut sama saja. Namun, Pak Sema, sebagai tokoh yang bahkan tak pernah menjadi sorot dunia, berhasil mengubah cara pandang manusia tersebut.
Pada suatu waktu, Pak Sema dan temannya, Pak Miri, sedang berpatroli mengitari danau raksasa. Kala itu, situasinya sehabis hujan. Sehingga Pak Sema dan Pak Miri harus berpatroli untuk mengecek apakah ada semut yang tidak sengaja tercebur ke dalam danau raksasa. Nahasnya, justru mereka yang celaka karena Pak Miri tidak sengaja terpeleset. Pak Sema berusaha menolong dan akhirnya ikut tenggelam ke dalam danau raksasa.
Peristiwa itu disaksikan oleh seorang manusia. Namun, manusia itu hanya diam saja, tidak menolong mereka. Manusia itu berkata, "Untuk apa ditolong, toh nanti akan tetap hanyut jika terbawa arus saat orang lain mandi. Biarkan saja, kita lihat apakah semut itu berhasil naik dari ember dengan sendirinya. Sudah mau tenggelam gitu, apa untungnya jika mereka tetap berusaha?"
"Gimana cara Bapak bisa selamat dari sana?" tanyaku yang semakin penasaran.
"Yah, tidak ada jawaban khusus. Saya masih diberi keselamatan, sebab hari itu ternyata bukan takdir saya untuk mati. Saya mendapat kesempatan untuk hidup dan membagikan cerita ini."
Pak Sema melanjutkan, "Saya dan Miri terombang-ambing cukup lama. Keran airnya menyala sangat besar, seperti air terjun. Syukur saya tidak jatuh di dekat sana, bisa-bisa saya tenggelam sungguhan. Badan saya sudah basah semua, rasanya berat untuk berjalan ke atas danau dengan sendirinya. Namun, tiba-tiba sebuah gayung yang terbawa arus air terjun mendekati saya, jadi saya naik ke atasnya untuk mengeringkan badan. Entah bagaimana, arusnya seakan membawa saya menuju Miri, jadi kami berdua bisa selamat. Air terjun tadi menambah volume air di dalam danau raksasa, sehingga gayung itu mengapung dengan sendirinya mendekati permukaan. Sebelum air di danau tumpah karena kepenuhan, saya dan Miri buru-buru menuju tempat aman."
"Lalu, bagaimana dengan manusia itu, Pak?"
"Ah, dia mematikan keran air dan membiarkan saya dan Miri menghilang dari hadapannya." Pak Sema mengatakan hal itu sambil tersenyum.
"Dia mematikan keran air?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan. Sungguh? Manusia itu?!
"Ya, sungguhan. Wajahnya merasa bersalah, ia buru-buru mematikan keran agar air di dalam danau raksasa tidak tumpah dan mengenai kami," jawab Pak Sema, melirikku sekilas dan kembali melanjutkan perkataannya. "Mungkin dia juga salah satu manusia baik yang sedang mengalami hari buruk."
Aku mengangguk meski tidak sepenuhnya setuju. "Bagaimana cara Bapak menginspirasinya?"
"Saya rasa saya sudah meninggalkan kesan yang mendalam untuknya. Dalam hidup, terkadang ada situasi di mana kita hanya bisa berusaha dan berdoa sekuat yang kita bisa. Sisanya saya kembalikan lagi, Tuhan menakdirkan apa untuk saya, itu yang perlu saya terima."
Pak Sema berpendapat, "Gayung yang bergerak mengikuti dorongan arus air terjun adalah hal di luar kehendak saya. Namun, saya selamat karena air terjun itu mendorong gayung ke arah saya, meski dalam situasi lain, air terjun itu juga mungkin saja menenggelamkan saya. Tetapi, takdir Tuhan yang merencanakan semuanya, sehingga air terjun itu ada untuk menyelamatkan saya."
Terakhir, aku juga meminta Pak Sema untuk meninggalkan kesan pesan dalam wawancara ini. Pak Sema hanya tertawa dan berkata, "Sebagai makhluk kecil, kita tidak boleh meragukan rencana Tuhan yang Maha Besar."


Komentar